Merawat dan Mendidik Anak Secara Islami

Tahukah bunda kalau putra-putri kita telah akil baligh? Untuk anak perempuan tandanya lebih mudah dikenali, karena biasanya anak akan memberitahu ibu atau keluarga terdekatnya pada saat pertama kali mendapat haid. Lalu bagaimana dengan anak laki-laki, tahukah bunda kapan putra kita melewati malam yang menjadi pertanda ia telah menjadi laki-laki dewasa seutuhnya. Berapa banyak orangtua yang mengetahui anak laki-lakinya telah mengalami mimpi basah untuk pertama kalinya?

Terkait hal ini, Imam Syafii pernah memberikan contoh yang layak kita teladani. Imam Syafii mengawal betul pertumbuhan anaknya. Untuk anak lelakinya, ketika diperkirakan memasuki usia baligh, seusai qiyamul lail beliau selalu menyempatkan diri untuk memeriksa pakaian dalam anaknya. Adakah pakaian dalam itu basah oleh mimpi yang menjadi pertanda peralihan usia?

Dan ketika suatu hari beliau mendapati anaknya telah melalui fase tersebut, sang imam memiliki cara khusus untuk menyambutnya. Beliau mengundang seluruh tetangga dan di depan mereka Imam Syafii mempersaksikan dan meminta anaknya untuk bersyahadat ulang. Pada hadirin beliau berpesan, jika mereka melihat anaknya berbuat salah, untuk segera menegurnya.

Teladan yang diberikan oleh Imam Syafii dalam mempersiapkan dan memperlakukan anak lelakinya menginspirasi saya yang kebetulan diamanahi 3 anak yang semuanya laki-laki. Dua remaja saya pada saat kelas 6 SD sudah saya beritahu mengenai tanda-tanda akil baligh, hal ini saya maksudkan agar pengalaman “mimpi basah” pertama mereka dishare kepada saya, atau ayahnya.

Nah ketika disuatu subuh saat si sulung kelas 2 SMP, dengan malu-malu ia menemui saya. Sayapun segera paham dan menyuruhnya mandi besar (mandi janabah) seperti yang sudah saja ajarkan sebelumnya. Setelah sholat subuh ayahnya bicara pada si sulung. Bahwa kini ia telah menjadi remaja dan beranjak dewasa. Mulai saat itu ia telah mempunyai buku amalannya sendiri dan semua perbuatannya sudah mulai direkam dan akan ditayangkan serta dimintai pertanggungan jawab kelak dikemudian hari.

Pada masa akil baligh ini putra dan putri kita selain mengalami perubahan fisik juga mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga memungkinkan munculnya masalah. Oleh karena itu pada fase ini sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik. Biarkan ia memiliki ruang agar tidak merasa dikekang tatapi tetap dalam pantauan orangtua. Pengawasan tetap bisa dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja selalu berdoa untuk kebaikan dan keselamatan putra dan putri kita.

Setiap orangtua mungkin sudah memiliki konsep untuk mendidik putra-putrinya, karena orangtualah yang mengenal keunikan masing-masing anak. Namun tidak ada salahnya kita juga mengenal bagaimana pendidikan di jaman Rasulullah dan para sahabat dalam menata langkah untuk anak-anaknya.

1. Rasulullah Saw mensunnahkan agar para orangtua mengajarkan anaknya untuk mengendarai kuda, berenang dan belajar memanah. Tidak saja dalam arti harifiah, tetapi beberapa pakar menerjemahkan mengendarai kuda adalah mengajarkan anak tentang skill of life, berenang adalah pelajaran tentang survival of live dan memanah adalah mengajarkan anak untuk menentukan target dalam hidupnya. Dan secara harfiah semua kegiatan tersebut adalah berolahraga untuk melatih agar anak tumbuh dengan fisik yang kuat.

2. Parenting ala Ali bin Abi Thalib Ra dilalui dalam 3 tahap, yaitu 7 tahun pertama anak diperlakukan bak putra mahkota, dilayani tapi bukan berarti menuruti semua kemauan anak. 7 tahun kedua, anak diperlakukan sebagai pelayan, diajarkan kemandirian, melayani diri sendiri dan membantu orang lain, melatih kedisiplinan dan belajar bertanggung jawab. Fase terakhir perlakukan anak sebagai orang kepercayaan dan sahabat. Beliau juga berpesan pada orangtua agar mengajari anaknya syair dan sastra, karena syair dan sastra akan membuat anak tumbuh dengan akal yang kuat dan hati yang lembut.